#CreativeCharity with @Shitlicious

IMG_20130730_145303

Don’t judge the book by its cover. Meski menurut saya ungkapan itu sangat subyektif, tapi kali ini saya setuju. Orang memang kadang punya style sendiri-sendiri. Yang menurut mereka nyaman, meski bagi orang lain kelihatan aneh atau bahkan serem

Paling tidak itu yang saya rasakan saat pertama kali ketika melihat sosok mas Alit Susanto alias @Shitlicious. Penampilannya mirip vokalis band yang kostumnya sering dipaksain biar kelihata keren. Plus dengan tindik di kedua telinganya dan celanya yang sering mlorot. Orang yang baru saja ngeliat pasti bakal langsung berpikiran “ni orang pasti mantan anak punk”

Tapi, disamping penampilannya yang sangar dan kayak preman itu, dia ternyata punya jiwa dan rasa berbagi yang sangat tinggi. Buktinya, di bulan Ramadhan ini dia ngadain acaranya #CreativeCharity. Sebuah kegiatan berbagi ilmu dan pengalaman tentang dunia tulis-menulis sekaligus pengumpulan donasi untuk disumbangkan. Dan kebetulan Solo menjadi salah satu destinasi kegiatan tersebut. Dan beruntungnya, saya terpilih untuk mengikuti acara ini. Peserta memang cuma dibatasi maksimal 50 orang. Jadi, dari beberapa yang mendaftar cuma dipilih 50 orang

Acaranya diadakan di lantai 5 Amarelo Hotel. Menurut jadwal sih mulainya jam 2 siang, tapi ya namanya juga jam Indonesia. Tau sendiri kan?.

Saya kira cuma mas Alit doang yang bakalan ngisi di #CreativeCharity. Ternyata saya salah. Ada 3 speaker yang ngisi acara tersebut. Salah satunya adalah mbak Windy Ariestanty.

*Sebenarnya saya ga kenal siapa itu mbak Windy wkwkwk

Well, yang bisa saya bagi dari acara itu adalah. Bahwa inti dari menulis itu adalah bercerita dan berbagi. Masalah inspirasi sebenarnya bisa datang darimana saja. Termasuk dari diri kita sendiri, yang sebenarnya merupakan sumber inspirasi terbesar. Kata mbak Windy, tak ada yang tak bisa dibagi. Kita bisa berbagi dunia kita dengan sudut pandang yang berbeda.

Memiliki gaya penulisan sendiri juga penting. Jangan karna kita terlalu ngefans sama penulis tertentu lalu kita meniru gaya penulisan dari idola kita itu. Penulis yang bagus harus punya karakter sendiri.

Pesan dari mas Alit. Kalau memang niat ingin jadi penulis. Pikirkan manfaat dari hasil tulisan kita untuk orang lain. Don’t be selfish dan jangan ngejar materi doang. Meski tidak dipungkiri bahwa salah tujuan dari menulis adalah mendapatkan royalti. Tapi,itu bukan yang utama

Sebenarnya masih ada banyak poin yang disampaikan oleh ketiga narusumber tadi. Tapi, berhubung saya ini orangnya suka amnesia jadi cuma beberapa saja yang bisa saya ceritakan. Lagipula memang benar kan bahwa menulis itu sebenarnya adalah bercerita?. Bercerita dalam bentuk tulisan. Untuk membuat tulisan menjadi menarik ya kita harus menyampaikan cerita-cerita tersebut dengan cara yang berbeda. Sudut pandang yang berbeda yang tak pernah terpikir oleh orang lain. Bagaimana caranya? Semua orang punya cara masing-masing. Mari terus mengeksplorasi apa yang bisa eksplorasi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *