Curhat Sore

Photo 1677

Kadang saya suka mendadak galau kalau ada yang nanya soal kegiatan dan pekerjaan. Terutama kalau yang nanya adalah bapak-bapak atau ibu-ibu yang entah ketemu dimana. Seringnya, saya cuma diam sambil tersenyum karna bingung harus menjawab apa. Bukannya saya nggak mau menjawab, tapi kalau saya jawab jujur nanti pasti bakalan ribet. Karna, jawaban yang keluar dari mulut saya pasti akan diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Sementara saya sering tidak siap untuk melakukan sebuah obrolan panjang yang yang sifatnya dadakan

Sudah sekitar satu bulan ini saya pindah kontrakan. Sebulan pula saya mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan suasana baru.

Jadi sekarang ini saya sedang ngontrak berdua sama temen saya. Kalau kalian pernah nonton serial Malam Minggu Miko, seperti itulah kira-kira kondisi saya sekarang. Tinggal serumah berdua sama temen. Bedanya, kami tidak punya pembantu. Kami juga tidak punya kucing piaraan yang namanya Morganisa. Yang ada adalah Marcelo, kucing tetangga yang sering nyasar ke kontrakan dan suka sering numpang tidur di kasur depan TV. Kucing itu saya beri nama Marcelo karna bulunya hitam dan agak keriwil. Mirip bek Real Madrid yang asal Brasil itu :D.

Saya dan teman saya punya kegiatan yang jauh berbeda. Dia lebih sering berada di luar rumah karna harus mengurus toko komputernya, sedangkan saya, seperti biasa, lebih banyak dirumah karna kegiatan saya sehari-harinya lebih banyak berhubungan sama internet. Jadi bolehlah dikatakan kalau saya ini lebih sering sendirian di rumah.

Kalau pikiran saya sedang ngaco, saya sering mikir kalau saya adalah tokoh utama dalam lagu Bang Toyib. Sebuah lagu yang menceritakan seorang istri yang ditinggal suaminya yang jarang pulang. Teman saya juga pernah berkelakar seperti itu. Dia bilang kalau saya ini sekarang sudah jadi istrinya bang Toyib

Dari itu semua, saya jadi berpikir bahwa, oalah begini to rasanya kalau sering ditinggal teman serumah pergi dan nggak pulang-pulang. Ternyata nggak ada teman ngobrol itu sepi juga. Saya jadi mikir, kalau saya sudah berkeluarga nanti, saya tidak ingin apa yang saya rasakan saat ini juga dirasakan oleh pasangan saya. Setidaknya, tidak separah ini. Memang kondisinya sangat berbeda. Saat ini saya masih bisa pergi seenaknya kemana saja saya mau kalau sedang merasa kesepian. Tapi, setidaknya saya sudah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para istri-istri yang merasa kesepian ditinggal suaminya. Itulah kenapa, saya lebih memilih untuk bertahan menjadi seorang “pengangguran” yang bercita-cita punya banyak waktu luang untuk orang-orang terdekat. Saya tidak mau kalau nanti pasangan hidup saya merasa kesepian. Impian ini sekilas terdengar sangat sepele, tapi sebenarnya sangatlah berat. Karna ini sangat berhubungan erat dengan urusan perut dan status sosial. Tapi, bukankah setiap orang sudah punya perhitungan sendiri soal mimpi-mimpinya. Demikian juga dengan apa yang saya impikan itu. Saya tentu sudah punya perhitungan versi saya sendiri perihal impian saya itu. Jadi tidak usah diperdebatkan lagi

Kembali, bahwa itu adalah tentang pilihan. Saya tentu sudah tahu resiko yang harus saya tanggun soal status pengangguran ini. Tapi, seperti halnya pendaki yang sekilas terlihat urakan, tidak punya aturan dan tidak punya tujuan. Padahal tujuan mereka sudah jelas: puncak gunung. Persepsi orang memang kadang membuat hidup ini menjadi beban. Seperti apa yang dikatan David Moyes, pelatih Manchester United yang kerap menjadi bahan pemberitaan negatif terkait prestasi timnya musim ini. Dia bilang bahwa tekanan justru datang dari media, bukan dari pihak club. Demikian juga dengan hidup ini, tekanan hidup kadang justru datang bukan dari diri kita sendiri. Tapi dari orang lain yang menganggap diri mereka lebih tahu tentang apa-apa tentang hidup kita. Padahal diri kita-lah yang seharusnya lebih tahu tentang hidup kita sendiri. Bukan orang lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *