Filosofi Kopi Part 2

IMG_20130521_155959

Beberapa hari yang lalu saya habis nonton film Filosofi Kopi. Sebuah film hasil adaptasi dari buku Dee Lestari. Cerita film ini tidak terlalu berat, konfliknya juga tidak terlalu rumit. Jujur saya suka sama film ini. Karna meski filmnya ringan, ada banyak pelajaran hidup yang bisa diambil

Sesuai dengan judulnya, film ini mengungkap beberapa sisi kehidupan yang diambil dari secangkir kopi. Saya memang bukan penggemar kopi, tapi saya cukup senang dengan filosofi dari secangkir kopi

Sebenarnya, ada tiga alasan kenapa saya nonton Filosofi Kopi. Pertama, karna saya sempat ketemu dengan produsernya, Angga Dwi Sasongko ketika dia menjadi salah satu pembicara di festival Phinastika tahun kemaren di Jogja. Kedua, adalah terkait biaya produksi. Meski cerita film ini sangat ringan, namun pembiayaan film ini cukup tinggi karna melibatkan banyak riset tentang kopi. Alasan ketiga, karna saya pernah membuat tulisan singkat tentang filosofi kopi. Tulisan itu saya buat tahun 2012. Saya membuat tulisan itu sebelum tahu kalau ada buku dengan judul yang sama

Poinnya, saya sangat penasaran dengan film ini.

Saya tak akan membahas banyak tentang film ini disini. Saya cuma ingin flash back mengenai tulisan saya tentang filosofi kopi. Di film Filosofi Kopi kita akan dijelaskan bahwa masing-masing jenis kopi memiliki filosofi yang tidak sama. Namun pada intinya, kopi tetaplah kopi. Apapun jenisnya dan bagaimanapun cara mengolahnya, tetap ada sisi pahit dari sebuah kopi

Saya sendiri mencoba mengartikan kopi dengan interpretasi saya sendiri. Saya sering mengartikan kopi sebagai orang-orang yang ada di sekeliling saya. Sedangkan diri saya, saya anggap sebagai sebuah cangkir kosong. Kopi akan selalu dituangkan pada cangkir kosong. Begitu pula dengan orang-orang. Ia telah diciptakan Tuhan untuk mengisi hari-hari kita yang kosong. Dan sebagaimana rasa kopi yang merupakan kombinasi antara manis dan pahit, orang-orang yang mengisi hari-hari kita juga akan menghadirkan rasa yang tidak sama. Kadang manis, kadang pahit. Ya karna memang begitulah hidup. Tak akan pernah punya rasa yang sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *