Hobi Baru, Soto Mbah Mul dan Emmmm… Boyolali

mbah mul

Akhir-akhir ini saya punya hobi baru: berenang. Bukan di kolam renang yang berkaporit tapi di umbul (kolam renang yang airnya berasal dari sumber alami). Kebetulan di Boyolali dan Klaten ada beberapa umbul yang bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Solo. Umbul yang akhir-akhir ini saya kunjungi adalah Umbul Pengging di Boyolali

Pertama kali kesana ketika mengantar teman yang sedang pemulihan sehabis operasi ligamen. Semacam terapi gitu lah. Karna tempatnya asik akhirnya jadi ketagihan. Kebetulan saya juga punya misi untuk melatih skill renang supaya nanti bisa berenang di Segara Anak saat ke Rinjani (eh di Segara Anak boleh berenang, kan?)

Saya biasanya renang pagi hari sebelum sarapan. Setelah berenang baru cari sarapan di sekitaran Umbul Pengging. Di dekat Umbul Pengging ada sebuah warung soto yang top markotop. Warung Soto Mbah Mul namanya. Saya baru tahu tempat ini setelah beberapa kali ke Pengging. Setelah tahu, saya tak pernah absen untuk mampir ke Mbah Mul setiap kali habis berenang di Pengging. Warung Soto Mbah Mul sebenarnya biasa saja. Cuma rumah biasa yang ditata sedemikian rupa untuk menjadi sebuah warung. Tak ada yang istimewa dari design arsitektur ataupun ataupun perabot yang digunakan. Yang isitimewa dari Mbah Mul adalah rasa menunya. Terutama teh. Saya enggak tahu apa merk teh yang dipakai Mbah Mul. Biasanya sih rasa teh seenak itu adalah hasil oplosan dari beberapa merk. Gula yang digunakan di Mbah Mul juga beda. Bukan gula pasir seperti di warung-warung pada umumnya. Melainkan gula batu (khusus untuk teh anget)

Mungkin itu adalah salah satu sebab kenapa teh racikan Mbah Mul ini enak banget. Sebagai orang yang hampir setiap sore nongkrong di wedangan, saya berani bilang bahwa teh nya Mbah Mul ini juaranya teh

Bukan cuma teh, rasa soto di Warung Mbah Mul juga juara. Sotonya menggunakan daging ayam kampung, bukan daging sapi (lagian saya enggak doyan daging sapi). Kalau dirasain sih sepertinya tidak ada bahan khusus yang digunakan oleh Mbah Mul. Mungkin karna takaran bumbunya pas sehingga rasanya benar-benar wow. Gorengan di Mbah Mul juga nggak kalah enak. Sebelum menu soto yang saya pesan datang, saya selalu melakukan pemanasan dengan makan satu bakwan atau sosis goreng. Pokoknya gitu deh. Semua yang di Mbah Mul itu enak dan nagih

Kembali ke judul

Boyolali. Sebuah kabupaten yang mungkin akan biasa saja kalau tidak ada Gunung Merbabu dan Merapi. Keberadaan dua gunung itu membuat Boyolali memiliki hawa yang cenderung sejuk. Setidaknya kalau dibandingkan dengan Solo atau daerah asal saya, Sragen. Kebetulan setiap kali ke Pengging saya selalu mengajak (atau diajak) oleh teman yang rumahnya di Banyudono. Jaraknya hanya sekitar 10 menit dari Pengging. Sejak pertama kali mengantarnya terapi, sejak saat itulah saya sering ngajak dia (atau diajak) berenang ke Pengging

Kebetulan rumah teman saya itu dekat area persawahan. Kalau berangkat ke Pengging biasanya kami melewati area persawahan. Kalau sedang berutung, pemandangan Gunung Merbabu dan Merapi akan terlihat begitu menawan. Saat melewati area persawahan itulah biasanya saya akan norak. Saya selalu mbonceng di belakang. Biasanya, saya akan nyanyi-nyanyi atau merentangkan tangan seperti di film-film. Pokoknya norak

Sejatinya, suasana pedesaan seperti adalah hal yang biasa bagi saya. Wong rumah saya juga di desa. Bahkan lebih ndesa dari dari rumah teman saya. Bedanya, di sekitar rumah saya tidak ada area persawahan. Adanya ladang jagung atau tebu. Mungkin karna sudah lama tidak jalan-jalan jauh sehingga kenorakan saya sering keluar ketika melewati area persawahan di dekat rumah saya itu. Lagipula norak itu enggak dosa kan? :))

Kalau kata Jazon Mraz mah,

Living the moment, living my life

Easy and breezy, with peace in my mind

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *