Keraton Kasunanan Surakarta

Solo, The Spirit of Java. Kota dengan semangat perubahan yg sangat tinggi serta sarat akan budaya dan tradisi. Beberapa tahun belakangan Solo menjadi perhatian nasional bahkan dunia melalui event-event yang telah diselenggarakan diantaranya Solo Batik Carnival (SBC), Solo International Permorming Arts (SIPA), Solo International Ethnic & Contemporary Music (SIEM) dan yang terbaru Solo ditunjuk sebagai tuan rumah pesta olahraga bagi orang-orang berkebutuhan khusus se-ASEAN / ASEAN PARA Games yg notabene baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia *applause*.

Untuk Calender event kota Solo tahun 2012 bisa di-download disini. Jadwal bisa berubah sewaktu-waktu 🙂

Dan satu hal yg tak boleh terlewatkan ketika membicarakan Solo untuk saat ini adalah Pak Joko Widodo aka Jokowi, walikota ganteng kebanggaan warga Solo 🙂

And now we will talk about the Tourism of Solo aka Surakarta 😀

Meski bukan termasuk kota pariwisata layaknya Denpasar, Solo tetap menjadi tujuan yang menarik bagi warga luar kota yg ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga atau orang terkasih. Tempat pariwisata di Solo umumnya didominasi oleh tempat-tempat yang berbau sejarah, Salah satunya adalah Keraton Kasunanan Surakarta. Keraton Kasunanan Surakarta atau lengkapnya adalah Keraton Surakarta Hadiningrat terletak di pusat kota Surakarta dan berdekatan dengan beberapa pusat keramaian kota seperti Pusat Grosir Solo, Pasar Klewer serta Balai Kota. Keraton Kasunanan masuk daerah kecamatan Pasar Kliwon. Lokasinya yg tidak jauh dari pusat-pusat keramain tersebut membuat Keraton Kasunanan mudah untuk diakses menggunakan angkutan umum. Salah satu angkutan yg bisa digunakan untuk ke keraton adalah dengan Batik Solo Trans aka BST yg berhenti di perempatan Gladhag, kemudian dilanjutkan dengan naik becak atau berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh dari perempatan Gladhag.

Di perempatan Gladhag anda akan disambut oleh sebuah bangunan benteng tua peninggalan Belanda. Bangunan ini bernama benteng Vasten Burg yg juga berdekatan dengan bangunan bersejarah lain yakni Bank Indonesia yg terletak disamping balai kota

Dari perempatan Gladhag anda harus berjalan ke arah selatan menuju alun-alun utara. Alun-alun ini merupakan bagian dari kompleks keraton. Di sekitaran alun-alun anda akan menemui sejumlah pohon beringin tua dan para pedagang yang menjual aneka cindera mata khas Solo. Ada batik, ukiran patung dari kayu dan berbagai macam kerajinan tangan lainnya. Di tengah alun-alun utara ini terdapat dua pohon beringin tua yang diberi pagar di sekelilingnya, dua pohon tersebut mempunyai nama yakni Dewodaru dan Joyodaru. Keduanya disebut Waringin Sengkeran atau bahasa Indonesianya beringin yang dikurung. Bagi anda umat muslim sebelum melanjutkan perjalanan mengelingi kompleks keraton ada baiknya anda mampir ke masjid yang berada di sebelah barat alun-alun untuk melaksanakan sholat. Masjid itu bernama Mesjid Ageng yang merupakan masjid resmi kerajaan. Konon masjid ini didirikan oleh Pangeran Pakubuwono III pada tahun 1750.

Selepas melewati alun-alun utara anda akan ketemu sama Sasana Sumewa yang merupakan bangunan depan keraton. Mata anda akan disambut oleh sebuah menara unik seperti kubah masjid. Disana terdapat pintu gerbang utara namanya Kori Wijil. Jika anda mengendarai kendaraan bermotor anda bisa ambil parkir disana untuk selanjutnya beli tiket buat masuk ke dalam keraton. Tiket parkir sebesar Rp 2.000 sedangkan untuk tiket masuk ke keraton sebesar Rp 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 12.500 untuk wisatawan mancanegara. Bila anda membawa kamera anda harus merelakan Rp 3.500 untuk tiket tambahan :D. Nah, untuk “pamer” ke teman-teman bahwa anda pernah berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta anda dapat membeli buah tangan berupa ukiran dari akar bambu yang banyak dijual di sekitaran pintu gerbang.

Setelah melewati pintu gerbang anda akan disambut oleh dua bangunan unik yang konon dulu digunakan untuk menghadap pegawai menengah ke atas. Bangunan yg sebelah barat namanya Bangsal Smarakatha sedangkan yg sebelah timur namanya Bangsal Marcukundha. Sekarang tempat ini menjadi tempat untuk latihan menari dan ndalang. Di belakang pintu masuk terdapat sebuah taman yang cukup sejuk. Jika anda memakai topi, sandal, kaca mata dan celana pendek anda tidak diperbolehkan berjalan-jalan di area taman oleh pihak keraton, tapi anehnya jika anda memakai sepatu maka anda tetap diperbolehkan untuk berjalan-jalan di area keraton  -__-. Tanah yang ada di taman ini bukanlah tanah biasa melainkan pasir yang diambil dari pantai laut selatan. Di sekitar taman tumbuh pohon sawo kecik yang berjajar rapi. Jumlahnya 76. Disana juga ada pendopo yg lumayan megah yang dihiasi patung ala Yunani namanya Sasana Sewaka. Kombinasi antara bangunan-bangunan berornamen jawa dihiasi dengan patung-patung ala Yunani (Eropa). Kerennn!!

Setelah puas bermain di taman anda bisa beralih ke bangunan sebelahnya. Disana terdapat beberapa karya budayawan dan seniman jaman dulu antara lain gong, dolanan jawa tempo dulu, patung raja yg sedang duduk di singgasana, dan andong. Disana juga terdapat sebuah lukisan bernuansa mistis *seremmm*

Jika anda sudah puas menjelajahi isi keraton, jangan lupa untuk sempatkan mampir ke alun-alun selatan. Anda tinggal keluar dr pintu gerbang dan berkendara/berjalan mengikuti jalan yg ada. Disana anda akan bertemu sama mbah Slamet aka kerbau keraton :D. Disana juga ada kereta meriam peninggalan jama dulu. Anda bisa menikmati suasana alun-alun sambil menikmat makan siang di beberapa warung yg banyak terdapat disana.

Bagaiamana, tertarik untuk jalan-jalan ke keraton Kasunanan Surakarta?. Tak ada salahnya sekali-kali menghabiskan waktu libur ke Keraton untuk mengenang jaman kerajaan tempoe doeloe :).

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”

“If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. ” -Michael Crichton

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *