Merbabu, Once Again I’ve Been On The Peak

DSC_0788

Kalau diibaratkan tim sepakbola, Merapi dan Merbabu itu mungkin seperti Manchester United dan Manchester City. Sama-sama bertetangga tetapi punya karakteristik yang berbeda. Kalau Merapi masih sangat aktif maka Merbabu sudah tidak aktif. Dan saya sangat bersyukur karna pernah diberi kesempatan untuk menjadi orang kesekian yang menginjakkan kaki di puncak kedua gunung tersebut

Sabtu kemaren (10/5/2014) saya dan ke12 temen saya menghabiskan waktu di Merbabu. Ini adalah pengalaman kedua saya naik gunung setelah tahun lalu saya ke Merapi. Waktu diajak ke Merbabu saya begitu antusias. Selain karna pengen, saya juga punya misi terselubung. Jadi, sekitar bulan Agustus atau September atau entah kapan, saya mau ke Rinjani. Salah satu teman merekomendasikan saya untuk pemanasan dulu sebelum ke Rinjani yang notabene adalah gunung api tertinggi ke-2 di Indonesia

Ngomong-ngomong, track menuju puncak Merbabu ternyata beda sama Merapi. Kalau Merapi lebih didominasi oleh tanjakan dan jarang sekali dijumpai track lurus, maka di Merbabu ini track-nya merupakan perpaduan antara perbukitan dan sabana. Beruntung karna waktu itu cuacanya sedang sangat cerah sehingga kita seperti sedang berjalan bersama bintang-bintang. Kita bisa melihat lampu-lampu kota Solo dan sekitarnya dari ketinggian. Indah sekali

Sebenarnya saya bukanlah pendaki sejati. Saya cuma orang biasa yang selalu kagum terhadap semua ciptaanNya setiap kali berada di puncak. Ketika berada di puncak saya semakin sadar bahwa manusia memang hanyalah makhluk kecil tanpa daya. Baru melewati secuil ciptaanNya saja sudah lelah.

Gunung Merbabu memiliki dua puncak yakni Trianggulasi dan Kenteng Songo. Dari kedua puncak ini kita bisa melihat puncak gunung Lawu, gunung Merapi, gunung Slamet, gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Pemandangan itu semakin indah dipadu dengan gumpalan awan putih yang membuat kita seperti berada di kahyangan. Maha karyaNya memang sungguh indah luar biasa. Keindahan itu tak bisa dideskrisikan dengan mulut atau lensa kamera. Hanya mata dan hati yang bisa merasakannya

Pengalaman naik gunung tahun ini sama kemaren sih pada dasarnya sama. Sama-sama capek, sama-sama pegel, sama-sama ngeluarin keringat banyak. Bedanya, tahun kemaren masih ada yang sms buat nanya “sudah sampai mana?” atau “hati-hati ya”. Kalau kemaren nggak ada yang sms seperti itu. Tapi ya begitulah, hidup memang penuh dengan dinamika. Kalau nggak gitu nggak seru *kata tetangga*. As the live keep going on, we should keep moving on

Berikut ini adalah beberapa foto yang saya ambil. Sebagian foto juga sudah saya upload di Beybong.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *