Pakai Cara Lama. Biar Lebih Terasa

BgqjFqJCUAAmDF_

Kata seorang teman, naik gunung itu bisa membentuk karakter seseorang. Saya setuju. Naik gunung sedikit banyak memang bisa memberi pelajaran bagi yang melakukannya. Bahwa hidup ini harus seimbang. Bahwa untuk menikmati keindahan manusia harus berlelah-lelah dulu.

Saya bukanlah seorang pendaki sejati. Bahkan saya baru naik gunung sekali pada bulan Maret tahun lalu. Bukan untuk gaya-gayaan atau pamer. Saya cuma ingin merasakan bagaimana rasanya sholat subuh di ketinggian gunung yang tentu saja tak bisa saya rasakan kalau saya tidak naik gunung. Walau dengan susah payah, akhirnya saya bisa sampai di puncak Merapi.

Pengalaman pertama naik gunung itu membuat saya ingin merasakan lagi. Saya sempat berpikir bahwa saya harus naik gunung lagi sebelum menikah. Kalau nggak Semeru ya Rinjani. Dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan Rinjani sebagai destinasi pendakian selanjutnya

Karna untuk ke Rinjani tentu saja membutuhkan budget yang lebih banyak daripada Semeru, maka mulai hari ini saya putuskan untuk menerapkan konsep #thepowerof20ribudan500 hehe. Mengumpulkan uang lembaran 20 ribu serta koin 500 kedalam celengan. Agenda ke Rinjani insya Allah nanti bulan Juli atau September. Saya tidak tahu berapa banyak uang yang akan terkumpul nanti, tapi menurut perkiraan saya, hingga bulan Juli nanti jumlahnya kira-kira sudah cukup untuk perjalanan pulang pergi Solo-Lombok

Saya memang sengaja menggunakan cara tradisional untuk mengumpulkan ongkos buat ke Rinjani. Menggunakan celengan. Celengannya pun saya buat sendiri dari bekas botol air mineral ukuran 1500ml. Sebenarnya saya pengen beli celengan kaleng. Tapi saya tidak tahu dimana belinya jadi saya putuskan untuk membungkus botol bekas air mineral dengan kertas kado yang saya beri label “RINJANI”. Biar kesannya lebih keren 😀

Lagipula, setelah dipikir-pikir, sepertinya akan semakin seru kalau saya menggunakan bahan-bahan yang ada disekiling untuk mengumpulkan uang tersebut. Toh, saat di gunung nanti saya juga harus bisa memanfaatkan barang-barang yang saya punya untuk bertahan hidup. So, Rinjani, Tunggu aku dengan senyummu, ya 🙂

Comments

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *