Pengalaman Ketiga Naik Gunung. Paling Menyenangkan

WP_20140623 11

Pertama saya mau ngucapin makasih dulu buat @zakiarsyad yang sudah menjeremuskan saya ke dunia pendakian. Waktu itu sekitar akhir Maret 2013 ketika saya pertama kali mendaki gunung (Merapi). Dan sejak saat itu nggak tahu kenapa kalau melihat foto-foto gunung di internet bawaannya pengen mendaki lagi. Dan sejak saat itu pula saya berani bermimpi untuk menginjakkan kaki di Rinjani (insya Allah tahun ini)

Ngomong-ngomong, hari Minggu (22/6/2014) kemaren saya baru aja melakukan pendakian ke Merbabu. Ini adalah kedua kalinya saya mendaki gunung tersebut dan alhamdulilah selalu sampai puncak walau harus sering break karena kecapekan 😀

Ketika mau mendaki Merbabu untuk yang pertama kali saya sempat skeptis sama gunung ini. Saya kira gunung ini tak punya pemandangan yang bagus karna di internet tidak banyak yang menulis tentang keindahan gunung Merbabu. Ternyata, setelah mengalami sendiri mendaki gunung Merbabu, saya baru bisa merasakan keindahan alam disana. View yang begitu indah membuat saya hampir tak bisa berkata apa-apa. Saat malam, taburan bintang di langit adalah teman melewati bukit demi bukit. Rasanya begitu dekat sekali dengan langit. Saat pagi dan siang hamparan hijau, biru dan putih adalah pemandangan yang sungguh luar biasa. Percaya atau tidak, saat dipuncak saya seperti berada di atas kahyangan yang dibawahnya adalah lautan awan

Gunung Merbabu ini ternyata punya tiga puncak: Syarif, Trianggulasi dan Kentengsongo. Dari puncak-puncak ini tersaji pemandangan yang saking indahnya saya sampai tidak tahu harus bilang apa kecuali “subhanallah”. Dari ketiga puncak ini dapat dilihat puncak gunung Lawu, Sindoro, Sumbing, Perahu, Slamet dan tentu saja, Merapi yang merupakan tetangganya Merbabu

Saya tak bisa menceritakan banyak tentang keindahan di puncak Merbabu karna kosa kata yang saya miliki sangat terbatas untuk mendeskripsikan keindahan alam disana. Foto-foto berikut ini barangkali bisa mewaliki keindahan disana

Walau pemandangan dipuncak sangat bagus, perjalanan kesana sungguh tidak mudah karna harus melewati beberapa bukit yang sangat curam. Apalagi jika sudah melewati Batu Tulis (kalau mendaki via selo), track yang harus ditempuh benar-benar curam dan bikin capek. Tapi, setelah berhasil tiba di sabana satu semua akan terbayar dengan pemandangan yang begitu luar biasa. Para pendaki biasanya akan mendirikan tenda di sabana satu atau sabana dua. Ada juga beberapa pendaki yang mendirikan tenda di Batu Tulis. Saya sendiri kemaren mendirikan tenda di sabana satu

Jika saat pertama ke Merbabu dulu saya tidak bisa melihat sunrise karna bangunnya kesiangan, kali ini akhirnya saya berkesempatan untuk melihat bagaimana sang alam melukis dirinya sendiri saat sunrise. Indah sekali

Dari ketiga pendakian yang pernah saya lakukan, pendakian kemaren itu adalah yang paaaaaaaaling menyenangkan. Karna pas di puncak saya ketemu sama seseorang yang sudah lama sekali saya pengen mendaki sama dia. Memang sih kita tidak naik bareng karna saya naik via selo (Boyolali) sedangkan dia naik via Wekas (Magelang). Tapi, seperti kata pepatah, asam di gunung garam di laut bertemu di belanga. Muahaha

Overall, pendakian kemaren itu nyenengin banget. Seperti biasa, mendaki adalah media belajar untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, bersyukur dan sabar. Setiap kali mendaki saya selalu mencoba untuk belajar menjadi orang yang lebih baik lagi dan lagi

Untuk pendakian kemaren saya mengucapkan terima kasih banyak buat @ianfalezt yang sudah mau nemenin. Btw, kemaren itu kita sempat dibully sama mas-mas pendaki usil. Pas kita lagi istirahat dan makan biskuit di salah satu spot di Batu Tulis, mas-mas tadi bilang kayak gini “lagi berduaan ya, mas?”. Saya langsung sadar kalau maksud dari mas tadi adalah untuk nyindir kita *maksudnya nyindir becanda*

Ya begitulah, naik gunung memang menyenangkan. Ada keakraban antara pendaki satu dengan yang lain walau kita baru sekali ketemu. Senyuman ramah pendaki ketika menyapa pendaki lain adalah hal paling menyenangkan dalam pendakian. Kita merasa benar-benar menjadi manusia yang sebenarnya dimana tak ada kelas ekonomi dan sosial. Tak ada kotak-kotak yang memisahkan. Satu-satunya yang membedakan adalah bagaimana setiap pendaki memaknai pendakian yang ia lakukan

Untuk pendakian kemaren saya juga mengucapkan terima kasih buat mas @aguswibisono, the real climber yang melakukan double track ke Merapi. Tanpa bantuannya saya tak akan bisa masak mie instant karna kompor yang saya bawa ternyata rusak 😀

And finally, thanks God for your beautiful Planet. Maha Suci Engkau ya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *