Tak Perlu Memaksa

wp_20150523_005

Saya selalu menahan diri untuk tidak berkomentar tentang politik di sosial media, meskipun sangat ingin. Saya juga selalu berusaha untuk tidak memberikan komentar apapun yang berkaitan dengan agama, apalagi dengan isu yang sensitif. Karna saya sangat sadar bahwa ilmu saya masih sangat dangkal. Dan berkomentar di tempat umum (sosial media adalah tempat umum) dengan pengetahuan ala kadarnya adalah sesuatu yang tidak ingin saya lakukan. Saya takut jika jadinya malah fitnah.

Kemaren saya terpaksa keluar dari sebuah grup WhatsApp yang isinya adalah teman dekat (sangat dekat, sahabat). Tindakan itu saya lakukan karna ada salah satu teman yang menurut saya sudah kelewat batas dalam menghakimi. Dia menganggap saya kafir dan setan.

Teman saya itu adalah salah satu orang yang ikut aksi damai 212 beberapa waktu lalu. Jauh sebelum aksi 212 dilaksanakan, dia memang sudah memproklamirkan diri untuk ikut dan mengajak orang-orang yang ada di grup.

Saya berusaha respek atas sikapnya yang menurutnya membela agama itu. Kalau memang dia menganggap ikut aksi 212 sebagai sebuah ibadah, maka itu adalah hal yang baik dan saya akan bilang “monggo”. Tapi saya tak ingin ikut karna saya punya cara sendiri untuk beribadah. Apa yang akan saya lakukan?. Tidak perlu saya jelaskan karna dalam agama saya, beribadah sebaiknya tidak ditunjukkan secara terangan-terangan kecuali jika tujuannya adalah riya’ (pamer). Ibadah itu adalah urusan personal antara umat dan Tuhannya.

Saya masih bisa maklum ketika ada seseorang yang memposting ajakan untuk ikut aksi damai 212 di grup WhatsApp atau di manapun. Tapi ketika ada seseorang yang menganggap bahwa orang yang tidak ikut dianggap bersikap apatis dan kafir, jelas ini keterlaluan.

Sekali lagi, saya punya cara sendiri untuk beribadah. Dan agama saya juga menganjurkan umatnya untuk tidak mengumbar ibadah yang sudah dilakukan. Saya diam (diam dalam arti harfiah, tidak bicara) bukan berarti saya tak peduli dengan agama. Saya hanya punya cara saya sendiri untuk menunjukkan kepedulian terhadap agama.

Membicarakan soal agama memang sangat kompleks karna juga berkaitan dengan sejarah. Saya rasa, membicarakan agama jika tidak pada tempatnya juga bukan hal yang bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *