Tentang Pertanyaan Formalitas Yang Bikin Gemes

tanya

Lebaran adalah salah satu momen paling ditunggu-tunggu. Momen ini adalah kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga besar yang biasanya dilakukan di rumah kakek/nenek. Di momen ini kita juga bisa tahu kabar terkini tentang keluarga kita yang sehari-harinya jarang ketemu. Kadang, kita juga akan tahu tentang anggota keluarga baru yang belum pernah ketemu sebelumnya, misalnya suami atau istrinya sepupu

Bukan cuma keluarga, lebaran juga menjadi momen untuk bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak ketemu. Saya sendiri sering ketemu dengan teman-teman lama yang sudah cukup lama nggak ketemu — saat sholat ied di lapangan

Saat ketemu dengan keluarga atau teman itulah sering kali muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat sepele dan terkesan formalitas. Seperti misalnya, kapan nikah, kapan lulus, kerja apa, kerja dimana dan pertanyaan-pertanyaan formalitas lain

Disadari atau tidak, kalimat-kalimat diatas adalah pembuka obrolan paling ampuh. Namun, meski kedengaraannya sangat sepele, kalimat pertanyaan tersebut adalah momok bagi sebagian orang yang sedang berada dalam sebuah fase tertentu yang tak jarang bisa menimbulkan kegelisahan. Misalnya pertanyaan kapan nikah yang diajukan pada perawan yang usianya sudah lebih dari 27 tahun. Atau pertanyaan kapan lulus untuk mahasiswa tua yang sudah memasuki masa injury time. Dan percaya atau tidak, pertanyaan-pertanayaan tersebut tak akan pernah berhenti pada satu titik saja. Pertanyaan tersebut adalah sebuah pertanyaan berkelanjutan yang tak akan ada habisnya. Jawaban dari satu pertanyaan seperti menjadi anak tangga untuk menuju pertanyaan berikutnya yang levelnya lebih rumit

Misalnya

Seseorang yang sudah menikah pasti akan ditanya tentang anak. Atau seseorang yang sudah lulus pasti akan ditanya tentang pekerjaan. Begitu seterusnya

Saya sendiri termasuk orang yang sedang dalam fase rumit ini. Bukan soal nikah atau kapan lulus, tapi soal pekerjaan. Seriously, ini adalah pertanyaan paranoid bagi saya. Saya memang tidak jobless. Tapi saya juga sangat kesulitan untuk menceritakan secara detail perkerjaan saya. Jangankan kepada keluarga yang masuk generasi X, kepada teman sebaya pun kadang saya juga masih kesulitan untuk menjelaskan apa sebenarnya pekerjaan saya

Sebagai seorang millenials yang hidup di era digital sekaligus seorang lulusan di bidang informatika, banyak sekali opsi yang bisa saya pilih – yang hampir semuanya berhubungan dengan internet. Fyi aja, saat ini saya sedang mengembangkan startup berbasis media digital. Salah satu yang sedang saya kerjakan adalah yukpiknik.com

Kesulitan utama saya ketika mendapat pertanyaan tentang pekerjaan adalah mendeskripsikan secara detail pekerjaan saya ini. Bukannya apa-apa, pertanyaan itu seringnya datang dari paman atau om yang tentu saja beda generasi dengan saya. Seriously, menjelaskan tentang industri creative digital kepada generasi X itu susahnya minta ampun. Jangankan generasi X, sesama millenials pun kadang juga sulit jika mereka tidak memiliki pikiran yang terbuka dan cenderung gaptek dan “kaku”

Saya sebenarnya sudah punya jabawan jika ada yang tanya “kerja apa?”. Jawaban singkat saya adalah “nulis”. Ya, sebagian besar kegiatan saya memang mengisi konten. Menulis

Tapi, seperti yang saya bilang. Jawaban dari pertanyaan tersebut kadang masih diikuti dengan pertanyaan lain. Kadang ada yang tanya nulis apa dan dimana, kadang ada yang tanya gajinya berapa. Untuk mereka yang sudah agak ngerti, kadang mereka tanya “dapet uangnya darimana?”.

Bila sudah begini, saya biasanya langsung mengalihkan topik atau pura-pura sakit perut :))

Kadang-kadang saya jadi mikir, benarkah bangsa kita ini sudah siap dengan kemajuan teknologi berbasis internet yang kian masif ini. Kalau boleh berpendapat, saya akan menjawab belum

Atau kalau memang sudah, kesiapan tersebut hanya sebatas konsumsi. Masih jarang sekali masyarakat Indonesia yang menjadi lebih produktif dengan kehadiran internet. Bahkan sebaliknya, keberadaan internet justru membuat sebagian besar masyarakat kita menjadi kurang produktif dan bahkan anti sosial. Terutama untuk mereka yang kurang mendapatkan edukasi. Kalau tidak percaya, cobalah lihat aplikasi pesan instant yang terinstall di smartphone teman-teman kita. Hampir semuanya punya aplikasi IM (instant messaging) lebih dari satu. Ini kan konsumtif namanya. Padahal kan fungsinya sama.

Atau yang lebih parah. Beberapa orang menjadi anti sosial karna keseringan bermain gadget saat sedang berkumpul bersama teman atau kerabat. Kayak contoh dibawah ini

anti sosial
Foto: http://www.ceritamu.com/

Ah sudah lah, malah jadi kemana-mana nih

Intinya saya cuma mau bilang, pintar-pintarlah dalam menjawab pertanyaan formalitas yang sering ditanyakan oleh saudara/teman yang sudah lama tidak ketemu. Dan jangan lupa, siapkan mental sebaik mungkin 🙂

 

Header image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *