Waktu Berjalan Lebih Cepat Dari Yang Kita Tahu

WP_20140914_098

Manusia adalah makhluk sosial yang mustahil bisa hidup sendiri. Ngobrol dengan orang lain adalah bagian dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Dari obrolan yang kita lakukan, baik yang serius maupun yang konyol, bisa dijadikan sebagai media pembelajaran. Ya, ngobrol adalah salah satu bentuk belajar

Saat sedang ngobrol dengan teman saya sering sekali menemukan pelajaran-pelajaran yang kadang menyadarkan saya secara tidak langsung terhadap suatu hal. Semua teman saya kini tahu bahwa belakangan saya suka naik gunung, mereka juga tahu bahwa saya sedang berusaha untuk mewujudkan mimpi ke Rinjani. Menurut teman saya, saya ini termasuk orang yang beruntung karna baru akhir-akhir ini suka naik gunung. Kalau sejak awal kuliah saya sudah suka naik gunung, apalagi sampai ikut UKM pecinta alam, barangkali sampai saat ini saya masih belum menyelesaikan skripsi. Argumen ringan ini bukan tanpa alasan. Salah satu landasan pendapat teman saya itu adalah seorang kakak senior di kampus yang sampai sekarang masih betah menyandang status sebagai mahasiswa meski sudah memasuki semester yang entah berapa itu. Masalah personality, memang. Tapi, pendapat teman saya itu barangkali memang ada benarnya

Ngomong-ngomong, sampai sekarang ini saya masih suka heran sendiri kenapa waktu berjalan sedemikian cepatnya. Tahu-tahu kini saya sudah tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. Teman-teman sudah mulai sibuk menjemput mimpi masing-masing. Ada teman yang kini melanjutkan ke S2, ada teman yang sedang berusaha mewujudkan impiannya menjadi pengusaha sukses, ada juga teman yang berusaha masuk ke instansi pemerintahan. Dari hati yang paling dalam, saya sangat senang dan bersyukur karna mempunyai teman yang begitu peduli meski kini telah mempunyai kesibukan yang berbeda-beda dalam rangka menjemput impian.

Waktu masih seumuran SMA dulu saya punya seorang teman akrab. Kita memang tidak satu sekolahan, tapi kita cukup akrab karna sama-sama mengikuti sebuah organisasi bela diri. Diluar kegiatan latihan kita sering main bareng. Entah apa yang membuat saya sedemikian akrab sama dia. Mungkin karna awalnya kita sama-sama suka Manchester United, atau karna kita hanya sedang mencari teman ngobrol dan kebetulan nyambung. Dulu saya sering sekali main ke rumahnya, begitu juga sebaliknya. Kini, teman saya itu sedang berusaha mewujudkan mimpi di ibukota. Kita ketemu cuma setahun sekali pas lebaran. Itupun kalau dia pulang

Entah kebetulan atau memang sudah takdir. Saya dan teman saya itu sama-sama punya adek yang juga seumuran. Mereka sekarang sudah kelas 3 SD. Dan ternyata, adek saya dan adek teman saya itu juga cukup akrab. Mereka suka main bareng, ngaji bareng. Bahkan mereka berdua juga sekolah di sekolah yang sama, satu kelas. Mungkin ini yang dinamakan regenerasi. Entahhlah, yang pasti kini saya semakin sadar bahwa waktu berjalan lebih cepat dari yang saya rasa dan pikirkan. Rasanya baru sebulan lalu saya lulus SMA, sekarang sudah menjadi sarjana pengangguran

Setiap kali saya sadar bahwa waktu berjalan lebih cepat dari yang saya rasakan, saya selalu berusaha untuk lebih menghargai waktu dan memperbaiki diri. Naik gunung adalah salah satu bentuk saya dalam menghargai waktu dan juga kesempatan. Menurut saya pribadi, naik gunung adalah sebuah refleksi dari kehidupan manusia yang fluktuatif, kadang diatas kadang dibawah. Track pendakian adalah kombinasi antara tanjakan dan turunan. Ada kalahnya kita harus berjuang dengan peluh saaat melewati bukit yang kemiringannya lebih dari 45 derajat. Ada masanya pula dimana kita bisa sedikit lebih santai saat melewati track yang datar dan sedikit menurun. Semua itu demi satu tujuan: puncak gunung yang menawarkan keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kalimat atau puisi seindah apapun!

Pendaki adalah orang yang jauh dari rumah, namun sedang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah SWT. Bagi yang benar-benar mau belajar, saat naik gunung kita akan sadar bahwa kita memang hanya makhluk kecil tak berdaya dihadapanNya. Coba bayangkan, gunung itu hanyalah secuil dari semestaNya yang maha luas. Dan untuk menaklukkan satu gunung saja kita sudah harus berjuang dengan semua tenaga yang kita punya. Dan apa yang kita lihat saat di puncak hanyalah secercah hamparan dari semesta yang maha luas. Jadi, apalagi yang harus kita banggakan dan sombongkan?. DihadapanNya, pencapaian kita di dunia ini hanyalah titik debu di lautan. Kita seringkali lupa bahwa tujuan utama kita adalah Dia. Yang punya gunung, yang punya laut, yang punya langit, yang punya bintang, yang punya keindahan, yang punya semuanya. Iya Dia, Dialah tujuan kita. Sang Penguasa Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *