Waktumu Sangat Terbatas. Sadarlah!

ea76364a9c4311e2949722000a1f90e1_7

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Yak betul banget!. Waktu memang sangat berharga sehingga sah-sah saja jika ada ungkapan demikian. Tapi sepertinya ungkapan itu perlu sedikit direvisi karna ternyata waktu lebih berharga dari sekedar uang. Uang tak bisa digunakan untuk membeli waktu, sementara dengan waktu kita bisa menghasilkan uang.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku barunya Yoris Sebastian. Judulnya Time is More Valuable Than Money. Di buku itu Yoris banyak membahas bagaimana seharusnya memanfaatkan waktu untuk hal-hal kreatif. Buku itu sendiri lebih fokus pada permasalahan spesifik tentang bagaimana memanfaatkan waktu ketika sedang berada di jalan. Khususnya jalanan Jakarta yang sangat terkenal dengan macetnya itu. Tentu akan sangat disayangkan jika seandainya kita sedang terjebak macet di dalam sebuah taksi, tapi tidak berbuat apa-apa. Apalagi sekarang kita hidup di dunia yang serba mobile. Apa-apa bisa dilakukan secara mobile menggunakan aplikasi di smartphone maupun tablet. Pesan tiket kereta, mengetik dokumen, mengirim email, bace e-book dan semacamnya

Setiap orang pada dasarnya diberi jatah waktu yang sama oleh Tuhan. 24 jam sehari. Yang membedakan adalah bagaimana manusia menggunakan jatah waktunya tersebut. Mau dipakai untuk sesuatu yang sia-sia atau sesuatu yang bermanfaat. Semua terserah manusianya. Yang jelas waktu itu sangat misterius dan saklek. Tak bisa dikurangi apalagi ditambah. Bahkan jika semua ilmuan dari seluruh penjuru dunia berkolaborasi sekalipun. Tetap tak akan mampu untuk menambah jatah waktu sehari yang hanya 24 jam

Kalian tahu, 24 jam itu sangat singkat. Singkat banget. Makannya, akan menjadi suatu kebodohan besar jika kita tidak memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan sebaik-sebaiknya. Di dunia ini memang tidak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri.

Soal waktu yang singkat itu, saya sangat setuju dengan kalimat almarhum Steve Jobs: “Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life”. Kalimat itu disampaikan si pendiri Apel tersebut di sebuah pidato di kampus Harvard. Mungkin maksud Steve Jobs waktu itu adalah untuk mengingkatkan para hadirin yang hadir bahwa umur manusia tidak pernah bisa ditebak. Sampai kapan kita akan hidup, hanya Tuhan yang tahu.

Jadi, pikirlah sekali lagi jika kalian ingin mengikuti jalan hidup orang lain yang tidak sejalan dengan tujuan dan hati nurani. Ibarat mau ke Jakarta, ya kita harus naik kendaraan yang benar-benar akan membawa kita ke Jakarta. Bukannya malah ke Surabaya. Walau pada akhirnya bisa sampai ke Jakarta, toh butuh waktu lagi untuk putar arah dan ganti kendaraan.

So, be wise to choose your vehicle while reaching your destination. Asal yakin, inya Allah akan bisa sampai tujuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *